Total Tayangan Halaman

Sabtu, 30 Juni 2012

SAKSI AHLI UNGKAP AKIBAT PEKERJAAN TUKANG GIGI DI HADAPAN MAHKAMAH KONSTITUSI

SAKSI AHLI UNGKAP AKIBAT PEKERJAAN TUKANG GIGI DI HADAPAN MAHKAMAH KONSTITUSI

Sabtu, 30 Juni 2012, 11:20

Para saksi ahli menyampaikan pernyataan mereka di hadapan sidang ke 4 Mahkamah Konstitusi mengenai judicial review tukang gigi terhadap UU Praktik Kedokteran pada 27 juni 2012. Dari kalangan profesi kesehatan gigi dihadirkan drg. Bambang Kusnandir Sp.Pros., drg. Bimo Rintoko Sp.Pros., drg. Andreas Adyatmaka, dan Suroto AMTG S.Pd., sebagai saksi ahli yang diajukan pemerintah. Pengajuan saksi ahli dari profesi kesehatan gigi karena selama ini pekerjaan tukang gigi mencakup kewenangan yang sebenarnya dimiliki dokter gigi dan teknisi gigi. Sedangkan dari pihak tukang gigi mengajukan saksi ahli Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, dan Dr. Muhammad Arief Setiawan, SH.

Sidang kali ini adalah lanjutan pengujian pasal 73 ayat (2) dan pasal 78 UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran terhadap pasal 27 ayat (2) dan pasal 28 D ayat (1) UUD 1945. Pada persidangan ke 4 ini, pihak pemerintah diwakili dr. Dedi Kuswenda (Direktur bina Upaya Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan) dan Tuti Ria Ningrum, SH dari Kementerian Hukum dan HAM, serta Netty Pakpahan, SH dan drg. Sudono dari Kementerian Kesehatan, turut pula drg. Azrial Azwar Sp.BM dari KKI dan Dr. drg. Paulus Januar dari PDGI. Pemohon pengujian UU Praktik Kedokteran adalah H. Hamdani Prayogo, tukang gigi, yang diwakili pengacaranya terdiri M Sholeh Amin SH MHum, A Wirawan Adnan SH, A.H. Wakil Kamal SH MH, Iim Abdul Halim SH, Rinni Ariany SH MH, dan Nirsam Makarau SH MH.

SAKSI AHLI PROFESI KESEHATAN GIGI

Drg. Bambang Kusnandir Sp.Pros., seorang dokter gigi spesialis prostodonsia dan mantan ketua IPROSI (Ikatan Prostodonsia Indonesia) menyampaikan bahwa, dokter gigi berpraktik berdasarkan standar kompetensi atau standar kewenangan. Sedangkan seorang dokter gigi spesialis prostodonsia atau gigi palsu, harus juga mempunyai kompetensi sebagai dokter gigi spesialis prostodonsia. Dalam profesionalismenya, seorang dokter gigi harus menguasai ilmu kedokteran gigi dasar yang menyangkut biologi oral, biologi material, dan teknologi kedokteran gigi untuk menunjang keterampilan preklinik, klinik, serta penelitian-penelitian apabila dibutuhkan. Sebagai dasar untuk melakukan pelayanan klinis harus memahami prinsip ilmu kedokteran gigi klinik. Kemudian dalam praktiknya, pada pemeriksaan terhadap pasien, dokter gigi tidak lepas dari pemeriksaan fisik secara umum dan sistem stomatognatik dengan mencatat informasi klinis, laboratoris, radiologis, psikologis, dan sosial guna mengevaluasi kondisi medik pasien tersebut. Kemudian juga harus bisa mendiagnosis penyakit, menetapkan prognosis kelainan gigi dan mulut melalui intepretasi, analisis, dan sintesis hasil pemeriksaan yang bersangkutan. Selanjutnya seorang dokter gigi juga harus dapat mengembangkan rencana perawatan pasiennya. Apabila seorang dokter gigi tidak bisa melakukan perawatan yang diperlukan, sudah barang tentu harus bisa menentukan rujukan sesuai yang diperlukan.

Kasus permasalahan gigi tiruan lepasan yang dibuat oleh tukang gigi disampaikan oleh Drg. Bimo Rintoko Sp.Pros. Penderita datang ke klinik gigi dengan keluhan gigi tiruan penuh rahang bawah yang dibuat oleh tukang gigi terasa tidak enak dan suka goyang ke kanan dan ke kiri, sehingga tidak nyaman untuk mengunyah makanan. Gigi tiruan tersebut dibuat oleh tukang gigi kira-kira 1 tahun yang lalu. Pada rahang atas, ditemukan gigi penyangga keropos karena digunakan sebagai retensi gigi tiruan. Pada rahang bawah, bagian belakang kanan dan kiri terjadi resorpsi (pengecilan) tulang rahang karena bentuk gigi tiruan tidak sesuai dengan bentuk anatomi. Selanjutnya diikemukakan, pada kasus tersebut protesis (gigi tiruan) tidak sesuai dengan kaidah ilmu prostodonsia (ilmu pembuatan gigi tiruan). Disimpulkannya, pembuatan prostesis atau gigi tiruan harus memahami: struktur anatomi rongga mulut, bentuk prostesis yang sesuai dengan rongga mulut, metode pencetakan yang sesuai, pemilihan bahan cetak yang sesuai, dan memahami sifat bahan-bahan yang akan digunakan ke pasien. Perawatan kedokteran gigi harus dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, yaitu dokter gigi yang telah melalui tahapan pendidikan formal yang terstruktur dan lulus uji kompetensi dokter gigi, teregistrasi di Konsil Kedokteran Indonesia, dan untuk berpraktik harus mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi) dan SIP (Surat Ijin Praktik). Tukang gigi tidak melalui tahapan pendidikan formal yang terstruktur, sedangkan pekerjaan yang dilakukan tukang gigi dilakukan ke struktur rongga mulut manusia.

Drg. Andreas Adyatmaka sebagai praktisi dokter gigi mempresentasikan pekerjaan menyimpang yang dilakukan oleh tukang gigi. Pada kasus yang ditanganinya, pasien datang dalam keadaan sakit luar biasa. Pasien mengatakan sakit semua tapi tidak tahu di mana sakitnya. Kemudian setelah diperiksa, ternyata ada gigi  tiruan cekat yang dipasang dengan bahan self-curing acrylic dan bocor. Pemasangan gigi tiruan cekat sebenarnya hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi. Kemudian dari foto rontgen,  gigi-gigi itu disambung dengan kawat, kemudian di atas kawat itu ditaruh akrilik, di atas akrilik diberikan gigi. Setelah diamati, ternyata terjadi kebocoran yang menyebabkan pulpitis yaitu radang pada saraf gigi yang sangat sakit. Terjadi resorpsi akar gigi yang harusnya dua kemudian tinggal satu. Setelah dibongkar, banyak karang gigi, kotoran gigi, dan bau busuk. Dari keterangan pasien, sebetulnya waktu dipasang langsung bagus, langsung enak. Bahkan kemudian minta istrinya juga dipasang gigi tiruan. Tapi setelah dua tahun, mulai terasa gangguan sakit luar biasa, termasuk pada istrinya juga. Disimpulkan, pembuatan gigi tiruan cekat yang tidak sesuai kaidah ilmu kedokteran gigi  seperti bom waktu yang akan sakit pada suatu saat. Pemasangan awal yang dinilai bagus dan enak, akan menjadi derita di kemudian hari, dan perlu perlindungan untuk pasien agar tidak dilakukan oleh sembarang orang. Ditegaskan oleh drg. Andreas, Pasal 73 ayat (2) dan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 merupakan ketentuan yang melarang kegiatan di bidang kesehatan yang tidak dilakukan secara benar. Kemudian kegiatan di bidang kesehatan yang tidak dilakukan secara benar, merupakan pelanggaran terhadap hak hidup sejahtera dan hak mendapatkan pelayanan kesehatan. Maksudnya mendapatkan pelayanan kesehatan, tapi ternyata yang didapat adalah kesengsaraan.

Suroto AMTG S.Pd yang ketua Peratuan Teknisi Gigi Indonesia (PTGI) pada awal paparannya mengemukakan tentang sistem dan proses pendidikan teknisi gigi. Kemudian dikemukakannya, lulusan D3 Teknisi Gigi dapat dibedakan secara tegas dan jelas dengan mereka yang mengaku ahli gigi yang sebenarnya adalah tukang gigi. Dari perspektif ilmu, para tukang gigi sama sekali tidak memiliki dasar pengetahuan teknik gigi berdasarkan kurikulum pendidikan D3 Teknisi Gigi yang berlaku. Persoalan kesehatan sangat terkait dengan tanggung jawab yang menyangkut jiwa seorang, sehingga sulit persoalan ini diserahkan kepada mereka yang tidak memiliki landasan ilmu pengetahuan. Ditandaskannya, kegagalan dalam menangani permasalahan gigi mempunyai dampak fisik maupun kejiwaan. Oleh karena itu, sebagai pihak yang selama ini berada dalam lingkungan kesehatan sangat berkepentingan untuk menjaga martabat profesi ini.

SAKSI AHLI DARI PIHAK TUKANG GIGI

Prof  Dr Siti Chamamah Soeratno, pakar bahasa Indonesia dari Universitas Gajah Mada, menyampaikan bahwa salah satu ciri bahasa hukum adalah jelas yang berarti dapat dipahami sesuai dengan pesan yang dimaksudkan. Menurutnya, pasal 73 ayat 2 dan pasal 78 UU Praktik kedokteran mengandung kata-kata yang tidak jelas maknanya. Ketidakjelasan dapat menimbulkan interpretasi ganda, yaitu pada kata kesan. Dikemukakannya, kesan ini lahir dari penerimaan seseorang terhadap fenomena yang dihadapi. Penerimaan ini cenderung bersifat subjektif, sehingga tidak akan menghasilkan informasi yang netral, yang terukur, yang tidak bertafsir ganda. Selanjutnya kata seolah-olah adalah kata-kata yang tidak memberi kepastian, yang rentan munculnya perbedaan pemahaman antara seorang pembaca dengan pembaca yang lain. Kata seolah-olah itu tidak bisa menimbulkan sesuatu yang pasti. Dipertegas lagi kekaburan maknanya dengan kata bagi masyarakat, artinya individu yang banyak. Dipaparkannya, dari segi tataran bahasa, Undang-Undang Praktik Kedokteran kurang mempertimbangkan tatanan kebahasaan, kaidah bahasa, ragam resmi, ragam baku yang semuanya itu harus jelas.

Dr Muhammad Arief Setiawan SH, pakar hukum  dari UII Jogyakarta, mengemukakan bahwa, perkembangan perundang-undangan di luar hukum pidana seperti perdata, tata negara, dan administrasi negara seringkali mencantumkan ancaman norma sanksi pidana untuk memperkuat berlakunya perundang-undangan tersebut. Undang-Undang Praktik Kedokteran dilihat dari substansinya, sebenarnya undang-undang ini bisa dimasukkan dalam kategori pengaturan bidang hukum adminsitratif yang mengatur mengenai penyelenggaraan, praktik pelayanan kesehatan atau kedokteran yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan, terutama dokter dan dokter gigi. Jadi, ini jelas tidak termasuk pengaturan norma hukum pidana yang murni. Meskipun kemudian di bagian akhir dari pengaturan itu muncul norma ancaman sanksi hukuman pidana.

Menurutnya, dari sisi ilmu hukum pidana, prinsip-prinsip kriminalisasi yang dihimpunnya dari berbagai pendapat terutama dari Alm. Prof. Sudarto, ada tujuh prinsip yang perlu mendapatkan perhatian. Pertama, dilakukannya kriminalisasi harus mendukung tercapainya tujuan nasional. Kedua, perbuatan yang dikriminalisasi tersebut memang mengakibatkan kerugian atau mendatangkan korban. Ketiga, memperhatikan prinsip biaya dan hasil. Keempat, harus dapat ditegakkan (enforceable). Kelima, memperhatikan prinsip hukum pidana sebagai sarana terakhir atau ultimum remedium. Dan di sini terkandung asas subsidiaritas dimana sebenarnya hukum pidana itu hanya disarankan, dipergunakan apabila norma-norma sosial kemasyarakatan dan/atau norma-norma hukum yang lain di luar hukum pidana, tidak cukup efektif untuk mengatasi persoalan. Sehingga kalau tidak bisa, baru hukum pidana itu dipakai untuk menangani. Keenam, menghindari perumusan yang bersifat samar atau umum. Dan yang ketujuh, perbuatan yang dikriminalisasikan harus digambarkan secara jelas dalam ketentuan hukum pidana. Mengenai norma hukum pidana pada pasal 78 UU Praktik Kedokteran, dikemukakannya ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, sifat hukum pidana sebagai lex scipta, yang menuntut adanya keharusan tertulis. Kemudian lex stricta bahwa penafsiran mengenai hal itu, tidak bisa dilakukan dengan proses analogi, dan lex certa menghindari multitafsir di dalam pembacaan dan perumusannya.

 SELANJUTNYA PENETAPAN KEPUTUSAN

Setelah mendengarkan keterangan saksi ahli, sidang kemudian diskors dan pada sidang berikutnya akan dibacakan putusan Mahkamah Konstitusi. Diharapkan para hakim Mahkamah Konstitusi dapat memberikan keputusan yang seadil-adilnya berdasarkan hal-hal yang telah disampaikan dalam persidangan. Dari rangkaian proses persidangan Mahkamah Konstitusi dapat terlihat dengan jelas mengenai permasalahan tukang gigi dan kaitannya dengan pengujian UU Praktik Kedokteran.

Memang merupakan hak konstitusional setiap warganegara atas pekerjaan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Namun hal ini bukan berarti boleh melakukan pekerjaan yang merugikan orang lain. Terutama dari persidangan terakhir terlihat bahwa, pekerjaan tukang gigi secara sistemik berpotensi dapat menimbulkan kerugian dan membahayakan pasien. Akibat buruk yang terjadi karena pekerjaan tukang gigi bukan hanya kasus yang bersifat kasuistik, melainkan merupakan sesuatu yang sistemik. Hal ini bersifat sistemik, karena para tukang gigi tidak menempuh pendidikan formal, serta tidak terdapatnya standar kompetensi maupun uji kompetensi dalam rangka menjamin perawatan yang baik serta keselamatan pasien (patient safety).

Kalau pun perumusan ketentuan pengaturannya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, akan tetapi sama sekali bukan berarti peraturan perundang-undangan yang melindungi pasien harus ditiadakan. Khususnya pasal 73 ayat (2) dan Pasal 78 UU  Praktik Kedokteran, mengenai kata "kesan seolah-olah" yang diperdebatkan, pengertiannya dapat ditelaah dengan mengacu pada Kamus Bahasa Indonesia yang diterbitkan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2008). Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kesan berarti apa yang terasa (terpikir) sesudah melihat (mendengar) sesuatu, sedangkan seolah-olah berarti selaku/seakan-akan.  Dalam hal ini ungkapan "kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi" memiliki pengertian sebagai "sesuatu yang terasa (terpikir) sesudah melihat (mendengar), maka orang tersebut selaku/seakan-akan adalah dokter atau dokter gigi (padahal bukan)". Dengan demikian pasal 73 ayat (2) dan Pasal 78 UU  Praktik Kedokteran, maknanya dapat dipahami dengan jelas dan tidak dapat ditafsirkan lain.

Pasal 73 ayat (2) dan pasal 78 UU  Praktik Kedokteran dapat dikatakan memenuhi prinsip-prinsip teori hukum. Ketentuan pada pasal 73 ayat (2) dan pasal 78 UU Praktik Kedokteran merupakan ketentuan yang tertulis secara formal (lex scripta), jelas batasannya (lex stricta), serta jelas penafsirannya (lex certa). Tindakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh seseorang yang dikesankan seolah-olah dokter/dokter gigi (padahal bukan), jelas dapat menimbulkan kerugian yang serius pada pasien. Pelarangan berikut sanksi mengenai pelayanan kesehatan yang tidak dilakukan secara benar merupakan sesuatu yang perlu dilakukan, mengingat hal tersebut terjadi di masyarakat, meskipun umum diketahui berdasarkan norma yang berlaku sebenarnya tidak boleh dilakukan. Dengan adanya pelarangan dan sanksi tersebut maka dapat dihindari kerugian yang lebih besar pada masyarakat. Penegakkan ketentuan pada  pasal 73 ayat (2) dan pasal 78 UU Praktik Kedokteran memang perlu dilakukan untuk menunjang terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

(rmk-p/pj)

Senin, 25 Juni 2012

ALBUM EMAS 50 TAHUN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

 50 TAHUN 
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI 
UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
1962 - 2012

Disusun oleh :
Bimo Rintoko, SKG., drg., Sp.Pros.




COVER ALBUM EMAS 50 TAHUN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)




FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)


Leaflet Seminar 50 Tahun
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)


Minggu, 13 Mei 2012

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1871/MENKES/PER/IX/2011 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 339/MENKES/PER/V/1989 TENTANG PEKERJAAN TUKANG GIGI

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1871/MENKES/PER/IX/2011

TENTANG

PENCABUTAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN
NOMOR 339/MENKES/PER/V/1989
TENTANG PEKERJAAN TUKANG GIGI




Halaman 1


Halaman 2


Halaman 3

Jumat, 27 April 2012

PENJABARAN CABANG ILMU KEDOKTERAN GIGI DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA

Pencabangan Ilmu kedokteran Gigi telah disepakati oleh stakeholder terkait dan disahkan oleh KKI. Selanjutnya akan diuraikan penerapannya untuk setiap cabang Ilmu Kedokteran Gigi. Penjabaran Cabang Ilmu Kedokteran Gigi adalah sebagai berikut :


1.        Ilmu Kedokteran Gigi Dasar :
1.1         Biologi Oral (Biology Oral)
1.2         Ilmu Material Kedokteran Gigi (Dental Material)

2.        Ilmu Kedokteran Para Klinik :
2.1         Patologi Mulut dan Maksilofasial (Oral and Maxillofacial Pathology)

3.        Ilmu Kedokteran Gigi Klinik :
3.1         Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial (Oral and Maxillofacial Surgery)
3.2         Ilmu Konservasi Gigi (Conservative Dentistry)
3.3         Ilmu Kedokteran Gigi Anak (Pediatric Dentistry)
3.4         Ilmu Penyakit Mulut (Oral Medicine)
3.5         Orthodonsia (Orthodontics)
3.6         Periodonsia (Periodontics)
3.7         Prostodonsia (Prosthodontics)
3.8         Radiologi Kedokteran Gigi (Oral and Maxillofacial Radiology)

4.        Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan kedokteran Gigi Pencegahan (Dental Public Health) :
4.1         Epidemiologi Oral
4.2         Perilaku Kesehatan Gigi
4.3         Manajemen/Administrasi Kesehatan Gigi
4.4         Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan
4.5         Ilmu Kedokteran Gigi Keluarga (Family Dentistry)

5.        Ilmu Kedokteran Gigi Interdisiplin :
5.1         Anastesi Kedokteran Gigi (Dental Anasthesiology)
5.2         Gerodontologi (Geriatric Dentistry)
5.3         Implan Kedokteran Gigi (Dental Implantology)
5.4         Kedokteran Gigi Estetik (Aesthetic Dentistry)
5.5         Kedokteran Gigi Forensik (Forensic Dentistry)
5.6         Kedokteran Gigi Khusus (Special Care Dentistry)
5.7         Kedokteran Gigi Militer (Military Dentistry)
5.8         Oklusi dan Gangguan Sendi Rahang (Occlusion and Temporo Mandibular Disorder)

Sumber : Mardewi, Siti · Hayati, Retno, 2009.  Pedoman penerapan cabang ilmu kedokteran gigi. Hal : 8-9
ISBN/ISSN : 979-1249-32-4. Penerbit : Konsil Kedokteran Indonesia 



Kamis, 08 Maret 2012

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Disusun oleh : 
drg. Bimo Rintoko, SKG., Sp.Pros.

PENDIRIAN Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) berawal dari berdirinya Dental Collage pada tahun 1958 oleh Prof. Dr. Moestopo. Seiring dengan berkembangnya dunia pendidikan di Indonesia, maka Perguruan Tinggi Swasta Dental Collage ditingkatkan statusnya menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Moestopo. Secara resmi Universitas Prof. Dr. Moestopo berdiri pada tanggal 15 Februari 1961 yang memiliki lima fakultas antara lain: Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Administrasi Negara dan Tata Niaga, Fakultas Tehnik, dan Fakultas Pertanian.
Gedung FKG Moestopo
Mengenal Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) rasanya tidak lengkap jika tidak berbicara mengenai sejarah sang pendiri. Mayor Jenderal (Purn) Prof. Dr. Moestopo adalah seorang yang besar jasanya bagi bangsa Indonesia. Dikenal sebagai sosok Bapak Kedokteran Gigi, pahlawan nasional dan pelopor di berbagai bidang. Motto Prof. Dr. Moestopo, pada masa revolusi fisik adalah: “berjuang sampai titik darah penghabisan dan pada masa damai bekerja keras sampai titik keringat dan otak terakhir”. Insting sosial yang tinggi dalam diri Prof. Dr. Moestopo sudah terlihat di kala masih duduk di bangku perkuliahan. Pada tingkat akhir di  School Tot Opleiding van Indische Tandartsen / STOVIT  (sekarang FKG UNAIR) dirinya selalu menyempatkan untuk membantu pengobatan masyarakat di daerah sekitar. Hal itu dilakukannya pada malam hari sepulang dari bekerja sebagai Dental Technician. Sementara pada hari Minggu dan hari-hari libur, selalu pergi ke alun-alun Gresik dan membuka praktik cuma-cuma di sana. Setelah lulus dari pendidikan kedokteran gigi, Prof. Dr. Moestopo bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air). Di dunia militer inilah banyak jasanya dalam membela bangsa dan negara. Di masa perjuangan merebut kemerdekaan Prof. Dr. Moestopo mempunyai andil yang sangat besar. Di antaranya adalah penemuan senjata bambu runcing yang ujungnya dibubuhi kotoran kuda yang dipakai oleh para pejuang melawan tentara Belanda dan Jepang. Penemuan senjata ini berdasarkan disertasinya yang berjudul “Penggunaan Bambu runcing yang Pucuknya Diberi Kotoran Kuda untuk People Defence Attack dan Biological Warfare (Perang Biologis)”. Selain itu, ia menjadi pemimpin pertempuran di Surabaya di kala Indonesia baru merdeka. Bersama dengan Jenderal Sudirman, Jenderal Urip Sumoharjo, Komodor Suryadarma dan Laksamana Natsir dari Angkatan Laut serta Bung Tomo merupakan perintis organisasi Tentara Nasional Indonesia.

Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Prestasi Prof. Dr. Moestopo di bidang kedokteran gigi juga tidak terhitung banyaknya. Ia memperoleh gelar brevet (keahlian) di bidang Bedah Rahang, Orthodonsia, dan Konservasi Gigi. Serta memperoleh anugerah sebagai Profesor di dalam bidang Bedah Mulut, Pancasila, dan Biologi. Ia juga dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Bedah Mulut, Konservasi Gigi, Orthodonsia, Biologi serta Pancasila. Andilnya yang lain dalam bidang pendidikan kedokteran gigi di Indonesia adalah ikut mendirikan berbagai fakultas kedokteran gigi di Indonesia seperti di Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Sumatera Utara, Universitas Trisakti, dan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Atas jasa-jasanya itu selayaknya bila PDGI menganugerahkan gelar Bapak Kedokteran Gigi Indonesia kepada Prof. Dr. Moestopo. Hingga kini, nama besar Prof. Dr. Moestopo tetap harum dan dikenal luas meskipun kini telah tiada. Bangunan lima lantai yang bergaya kolonial dipadu dengan atap khas Indonesia ini di bagian muka pintu masuknya terpampang patung pendiri universitas ini, yaitu Prof. Dr. Moestopo. 
Patung Prof. Dr. Moestopo
Di lantai 1 terdapat depo obat, ruang bagian penambalan dan klinik khusus RSGMP yang di fasilitasi oleh roentgen digital dan ruang tunggu yang nyaman. Sementara ruang kuliah, ruangan klinik, dan laboratorium menempati lantai 2-5. Sesuai nama universitas yang menggunakan kata “Beragama”, di kampus ini terdapat ruangan khusus untuk masing-masing agama. Terdapat vihara, mushola, ruang kebaktian untuk agama Katholik dan Protestan dan ruangan untuk agama Hindu. Prof. Dr. Moestopo adalah seorang yang sangat menghormati dan toleransi terhadap umat beragama. Sebagai implementasinya dibuatlah ruangan khusus untuk agama masing-masing.

Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Saat ini, FKG Moestopo tengah sibuk mempersiapkan diri guna penilaian akreditasi yang akan dilaksanakan pada tahun 2012. Mulai dari peningkatan SDM, sarana prasarana, sampai sistem pembelajaran. Untuk sistem akreditasi pada tahun 2012 ini menggunakan acuan yang baru. Oleh karena itu, banyak yang harus dibenahi. Contohnya adanya undang-undang kesehatan yang mengharuskan prasyarat sebuah rumah sakit harus mempunyai ruang rawat inap dan kamar mayat. Selain itu, fakultas ini berencana menambah bangunan yang akan dikhususkan untuk ruang kuliah. Pembangunan gedung baru tentunya merupakan salah satu upaya FKG Moestopo untuk meningkatkan kualitas di tengah persaingan antar-FKG. Fakultas menyediakan suatu wadah bagi mahasiswa yang ingin berorganisasi dan berprestasi di berbagai bidang. Senat Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa menggerakkan roda kegiatan kemahasiswaan di kampus ini. Aspirasi dan ide para mahasiswa dapat tersalurkan melalui kegiatan kemahasiswaan. Animo mahasiswa dalam berorganisasi pun cukup tinggi, untuk bergabung dalam organisasi, para mahasiswa yang mendaftar diharuskan menjalani tes uji kelayakan.
Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Pendidikan (RSGMP)
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Kegiatan di bidang kemahasiswaan baik di bidang akademik dan non akademik sangat didukung oleh fakultas. Jadi sekarang ini yang difokuskan adalah kegiatan yang dapat meningkatkan akreditasi. Dikarenakan persyaratan akreditasi semakin meningkat dan kompleks. Oleh karena itu, kami membuat ketentuan-ketentuan untuk kegiatan mahasiswa yang menyesuaikan dengan peningkatan kualitas. Setiap tahunnya senat mahasiswa FKG Moestopo melaksanakan tiga program andalannya, yaitu turnamen olahraga, Moestopo Dental Scientific, dan Moestopo Jelajah Nusantara. Ketiga program ini turut berjalan bersinergi dengan program fakultas di bidang akademik, non akademik dan pengabdian kepada masyarakat. Program Moestopo Jelajah Nusantara adalah bakti sosial yang dilaksanakan di luar Pulau Jawa. Kalimantan Selatan dan Lombok adalah daerah-daerah yang pernah dikunjungi dalam rangka Moestopo Jelajah Nusantara.
Kedekatan hubungan antarfakultas dan mahasiswa tidak hanya terlihat dari dukungan fakultas kepada mahasiswa, namun ketika fakultas mengadakan acara, mahasiswa sering dilibatkan sebagai pendukung kegiatan. Selain kedekatan hubungan antarfakultas dan mahasiswa, kedekatan antarmahasiswa dan alumni juga terjalin dengan baik. FKG Moestopo juga tergolong aktif di Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia dengan menjadi pengurus dan selalu aktif mengirimkan delegasinya. Dengan semangat perjuangan, pemikiran strategis, mendahulukan kepentingan masyarakat serta tetap berpedoman pada nilai luhur Pancasila dan toleransi antar umat beragama, FKG Moestopo siap meneruskan citacita sang Jenderal Prof. Moestopo menjadi universitas yang berprestasi dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa.


GALLERY
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)



























Dokter Gigi Lulusan Tahun Akademik 2007/2008
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)


Dokter Gigi Lulusan Tahun Akademik 2007/2008
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)



Dokter Gigi Lulusan Tahun Akademik 2007/2008
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)


Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Program Akademik
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)



Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Program Profesi
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)


Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)







Jumat, 16 September 2011

FKG UNAIR SURABAYA

Di kampus ini saya menempuh pendidikan spesialis saya di bidang Prostodonsia (PPDGS). di postingan ini saya cuma ingin berbagi pengalaman saya selama menempuh pendidikan. Pertama kali saya menginjakkan kaki di FKG Unair tahun 2008 (PPDGS Prostodonsia ,08) keadaan kampus tidak seperti sekarang (2011), sudah banyak perubahan/perbaikan fasilitas pendidikan menjadi lebih baik.

Sayangnya saya tidak terlalu banyak mengabadikan keadaan FKG Unair saat-saat awal menempuh pendidikan. Maklum, selain sekolah, saya juga menyukai Fotografi (NewBe) baru tahun 2010, agak terlambat. Tapi tidak ada istilah terlambat untuk terus belajar.

Berikut ini adalah beberapa koleksi foto pribadi saya (2008 - 2011) selama menempuh pendidikan di FKG Unair :

Foto ini saya ambil secara tidak sengaja, menurut saya angle ini lumayan bagus (menurut saya). Ini saya ambil setelah bertanya kepada salah satu rekan saya di PPDGS yang sudah lama mendalami bidang fotografi.
Gallery STOVIT 1 (2010) By : Bimo Rintoko










Pintu Masuk FKG Unair By : Bimo Rintoko





GALLERY PPDGS PROSTODONSIA 
FKG UNAIR