Total Tayangan Laman

Jumat, 22 April 2011

SEJARAH PENDIDIKAN KEDOKTERAN GIGI DI INDONESIA

SEJARAH PENDIDIKAN KEDOKTERAN GIGI DI INDONESIA
Disusun oleh :  
Bimo Rintoko, drg., Sp.Pros.

Sejarah pendidikan kedokteran gigi di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Sebenarnya kota Surabaya adalah tempat dimulainya pendidikan kedokteran gigi di Indonesia. Pendidikan kedokteran gigi ini berkaitan dengan dimulainya pendidikan dokter di Hindia Belanda. 


Zaman Hindia Belanda (1800-1942)


Pada tahun 1847 dr. W Bosch, Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Batavia mendapat laporan bahwa di wilayah Banyumas berjangkit berbagai macam penyakit berbahaya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Pemerintah Kolonial Belanda, sehingga setiap Kepala Desa (Lurah) diberi sebuah buku tuntunan kesehatan dengan bahasa Jawa dan Melayu, agar setiap desa bisa menjaga kesehatan desa serta penduduknya. Tetapi cara ini tidak membuahkan hasil. Sehingga pada 29 November 1847 Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan akan memanggil pemuda-pemuda pribumi untuk dididik menjadi juru kesehatan. Mereka yang memenuhi syarat akan dididik di Rumah Sakit Militer Weltevreden.

 Gerbang Rumah Sakit Weltevreden

Weltevreden merupakan sebuah kawasan di wilayah Jakarta Pusat yang semula merupakan daerah hutan dan padang rumput. Diperkirakan kawasan ini disebut Weltevreden pada saat kawasan ini menjadi hak milik Cornelis Chastelein pada 1697. Gubernur Jenderal Daendels kemudian mengubah kawasan Weltevreden menjadi sebuah ibu kota untuk koloni Eropa di Asia Tenggara.

 Kawasan Weltevreden tahun 1750

Pada bulan Januari 1851 berdasarkan atas Gouvernements Besluit No. 22 tahun 1849 di Batavia (Jakarta) didirikan Sekolah Dokter Jawa ("Dokter Jawa School"). Pemuda-pemuda yang dididik secara cuma-cuma menjadi juru kesehatan berjumlah 30 orang dan pendidikannya dimulai pada 1851. Mereka diberi gaji f.15 per bulan dan diberikan perumahan. Pimpinan dan pelaksana sekolah ini diserahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Opsir Kesehatan Kelas 1 dan 2 Rumah Sakit Militer. Yang ditunjuk sebagai Pimpinan Kursus adalah Dr. P. Bleeker (1851-1860). Kursus Juru Kesehatan kemudian berubah menjadi Sekolah Dokter Jawa pada 1853 dengan masa pendidikan tiga tahun. Para lulusan sekolah ini diberi gelar Dokter Jawa, mereka dalam tugasnya berada di bawah pengawasan Dinas Kesehatan Sipil Pemerintah Hindia Belanda bergaji f.30 - f.50 per bulan.

Dokter Jawa School

Beberapa peristiwa penting dalam sejarah pendidikan dokter pada jaman Hindia Belanda adalah : 
·         1856         Dari angkatan tersebut yang lulus 11 orang dan diperbolehkan menggunakan titel "Dokter Jawa". Mereka memperbanyak jumlah juru cacar di daerah yang digunakan juga untuk membantu tugas-tugas ringan dokter militer. 
·         1856         Sekolah Dokter Jawa terbuka untuk murid yang berasal dari Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara. Dr. P. Bleeker yang belum puas pada pelaksanaan dan hasil pendidikannya mengusahakan perbaikan kurikulum Sekolah Dokter Jawa hingga menghasilkan dokter yang mampu menjalankan praktek umum. 
·         1864         Lama Pendidikan Sekolah Dokter Jawa dijadikan 3 tahun. Pendidikannya meliputi 27 mata pelajaran, siswa baru yang diterima lebih banyak. Melihat lulusan Sekolah Dokter Jawa ternyata intelegen dan berbakat baik, maka akhirnya ia berhasil mengarahkan pendidikan dokternya menjadi lebih baik lagi. 
·         1875         Lama pendidikan dokter menjadi 7 tahun dan dibagi menjadi 2 tahun bagian persiapan dan 5 tahun bagian kedokteran. Bahasa Pengantarnya adalah Bahasa Belanda. Siswa yang diterima sebagai eleve hanya lulusan SD pemerintah atau ujian masuk bila tidak memiliki pendidikan pendahuluan dan berumur 14-18 tahun. Jumlah eleve sebanyak 100 orang. Gelar setelah lulus : "Inlandsch Geneesen Heelkundige". Sejak itu mutu lulusan Dokter Jawa lebih baik dan dipercaya menjalankan tugas-tugas kedokteran yang lebih luas. Mereka mulai memiliki rasa percaya diri yang besar dan masyarakat menghargainya sebagai dokter sesungguhnya. 
·         1881         Lama pendidikan dokter diperpanjang menjadi 9 tahun dengan tahap 3 tahun bagian persiapan dan 6 tahun bagian kedokteran. Siswa yang diterima sebagai eleve hanya lulusan SD pemerintah (ELS). Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Belanda dan Bahasa Jerman mulai diajarkan mengingat adanya buku pegangan dalam Bahasa Jerman. 
·         1893         Majalah Kedokteran yang pertama diterbitkan. Dalam jangka waktu sekitar setengah abad, pendidikan dokter di Jawa mengalami kemajuan cukup pesat. Hal tersebut dapat terlaksana berkat :
  • Para pengajarnya terdiri dari tenaga-tenaga mampu dan memenuhi persyaratan dan       mereka tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai.
  • Kurikulum yang semula dianggap terlampau berat, akhirnya lebih diarahkan sesuai dengan kebutuhan.
  • Para siswa yang kemudian terpilih dan bertahan, ternyata sangat berbakat, rajin dan tekun belajar

 School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA)

Berhasillah cita-cita Belanda mendidik "dokter-dokter kelas dua" yang tingkatannya lebih rendah dari mereka. Dr. H.F. Roll sebagai tokoh kedua yang memimpin sekolah tersebut berhasil membangun sekolah baru di dekat rumah sakit militer. 

·        1902         Nama Sekolah Dokter Jawa / Dokter Jawa School menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen). Lama pendidikannya menjadi 8 tahun, terbagi menjadi 2 tahun bagian persiapan dan 6 tahun bagian kedokteran. Hak praktek ditambah dengan ilmu kebidanan. Penerimaan eleve baru ditingkatkan menjadi 150 orang dan terbuka bagi pemuda dari luar Jawa. Lulusan STOVIA bertitel "Inlandsch Arts" diijinkan melakukan "geneesheel en verlos-kunde / Kedokteran dan Kebidanan" dan berhak sebagai "apotheek-houndend geneesheer / Farmasis Kedokteran". 
·         1913         Lama pendidikan menjadi 10 tahun, terbagi menjadi 3 tahun bagian persiapan dan 7 tahun bagian kedokteran. Mata pelajaran meliputi premedik, preklinik dan klinik. Siswa berasal dari sekolah rendah pemerintah ; lulusan MULO langsung diterima pada STOVIA tingkat III Bagian Persiapan, sedangkan lulusan HBS (Hogere Burger School) V / Sekolah Tinggi Mengengah dan AMS (Algemne Middelbare School) B / Sekolah Tinggi  langsung di tingkat II Bagian Kedokteran.

Rencana pembangunan, tampak depan dan posisi dari Sekolah Dokter Pribumi/Sekolah Dokter Djawa Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902

 Salah satu dari empat asrama Sekolah untuk Sekolah Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902

 Gedung Pelatihan Senam Sekolah Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902

Tanah belakang Sekolah Dokter Djawa (Sekolah Kedokteran) Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902

 Ruang Guru / Dosen Sekolah Dokter Djawa(Medical School) Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902

 Ruang Untuk diskusi Sekolah  Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902

 P.A. Boorsma dengan siswa di ruangan amfiteater untuk pendidikan fisika dan kimia di Sekolah Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902
 Direktur H.F. Roll dengan siswa di ruang kelas terbuka dari Sekolah Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di Batavia - 1902

 Kantor Direktur Sekolah Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di Batavia - 1902

 Siswa Sekolah Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di Batavia - Tahun 1902

Guru dan pendidik dari Sekolah Dokter Djawa (Medical School) Hospitaalweg di BataviaDuduk dari kiri: guru Francken N, Guru / Wakil Direktur Dr CD Ouwehand, guru / direktur H.F. Roll, guru Dr P.A. Boorsma, guru L.P.J. Vermeulen, berdiri kiri ke kanan: HM Knoch guru, guru Dr H. Reilingh, guru A.J.H. Sharp, guru Dr J. Noordhoek Hegt, G.A. kepala sekolah Tuijl Schuitemaker, AF de Wolff guru, guru Dr CN Schoorel, guru Dr J.B.C. Persenaire, Asisten Guru Dewan Soerjatin

 Mahasiswa STOVIA (1920-1933)

 Para akademisi STOVIA tahun 1916

1900-1928 : Dokter Djawa Ismaƫl dari rumah sakit zending di Modjowarno.

 05-08-1927: Dokter Djawa sedang membalut pasien di poliklinik onderneming kapok Siliwok, Sawangan, Jawa Tengah. Pada tahun 1847 Dr. Willem Bosch, kepala Dinas Kesehatan Militer mengusulkan agar pemuda Jawa yang terpilih diberi pendidikan kedokteran.Pada tahun 1851 pendidikan itu dimulai di Weltevreden (sekarang daerah Gambir dan Menteng, arti weltevreden adalah menyenangkan) di Batavia dan dipimpin oleh Perwira Kesehatan Kelas 1 Dr. P. Bleeker. Angkatan pertama lulus tahun 1853 sejumlah 11 orang dan diberi titel ‘Dokter Djawa’.Seluruh angkatan pertama dikerahkan pada upaya vaksinasi cacar. Kemudian setelah dilakukan perubahan pada sistem pendidikan, mereka diberi tanggungjawab yang lebih besar. Sekolah mereka kemudian dinamakan STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi). Juru foto: tidak diketahui.

 De Javaanse Arts / Dokter Djawa
Foto diambil pada tahun 1875 di Jawa Tengah, Hindia Belanda / Netherlands East Indies 

Selanjutnya Sekolah Dokter Djawa yang terus menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada tahun 1889 namanya diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen/STOVIG (atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi), lalu pada tahun 1898 diubah lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/STOVIA (atau Sekolah Dokter Pribumi).

 School tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA)
Present Day

 School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA)
 Present Day

Akhirnya pada tahun 1913, diubahlah kata Inlandsche (pribumi) menjadi Indische (Hindia) karena sekolah ini kemudian dibuka untuk siapa saja, termasuk penduduk keturunan "Timur Asing" dan Eropa, sedangkan sebelumnya hanya untuk penduduk pribumi. Pendidikan dapat diperoleh oleh siapa saja yang lulus ujian dan masuk dengan biaya sendiri. Para lulusan Stovia kemudian diberi gelar Inlandsche-Arts. Pada 1913 Stovia melakukan penyempurnaan kurikulum. Masa pendidikan kedokteran kemudian ditingkatkan menjadi tujuh tahun dan lulusannya diubah menjadi Indische Arts

 Pendirian STOVIA (Sekolah Kedokteran) di Batavia - 1899-1920

 1920-1933: Foto bersama di depan Gedung STOVIA.

 1926: Hari ulang tahun ke 75 rumah sakit STOVIA
dalam ruangan tempat berlangsungnya presentasi dokter de Waart (ahli ilmu faal).


 1925: Tiga orang pria sedang menunggu di gerbang masuk STOVIA.

 1921-1933: Foto udara gedung-gedung STOVIA (di Salemba 6), CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting, sekarang RSCM), Laboratorium Kedokteran (sekarang Lembaga Eijckman, dan pabrik candu (di Salemba 4), di Weltevreden. Juru foto: Luchtvaart Afdeeling (LA) foto studio.

 1920-1933: Foto udara gedung-gedung STOVIA (di Salemba 6), CBZ (sekarang RSCM), Laboratorium Kedokteran (sekarang Lembaga Eijckman, dan pabrik candu (di Salemba 4), di Weltevreden. Gedung yang putih adalah pabrik candu, (gedung itu sudah dibongkar dan sekarang di tempat itu berada gedung UI Salemba 4) dengan latar belakang STOVIA, CBZ, Lembaga Eijckman. Juru foto: tidak diketahui.

 1925: Foto udara Rumah Sakit Umum Pusat di Batavia. Juru foto: tidak diketahui.

 STOVIA Tahun 1926
Prasasti STOVIA 

  Sekitar 1939: Gedung Geneeskundige Hoogeschool,
yang semula dipakai oleh STOVIA, di Jakarta.


1929: Pakaryan Bab Kasarasaning Kawula.
Pada tahun 1911 dibentuk suatu Dinas Kesehatan Sipil tersendiri, yang sebelumnya berada di bawah Dinas Kesehatan Militer. Pada tahun 1925 Dinas itu mempunyai nama baru, yaitu Dinas Kesehatan Rakyat (DVG, yang kantornya di Jl. Kesehatan dan sekarang menjadi kantor Dinas Kesehatan DKI). Pada tahun 1916 Dinas Kesehatan Sipil, yang kemudian juga dianut oleh DVG, yaitu memulai kebijakan yang lebih menekankan pencegahan ketimbang pengobatan.
Dengan kata lain mencegah lebih baik daripada menyembuhkan. Pada tahun 1936 DVG mempekerjakan 170 dokter Eropa, 316 Dokter pribumi (lulusan Sekolah Jawa dan STOVIA) serta 17 dokter keturunan Cina. Disamping itu ada 150 perawat Eropa dan 1210 perawat pribumi yang disebut mantri, serta 120 bidan. Juga ada 30 mantri malaria, 435 mantri cacar dan 415 orang dalam dinas pemberantasan penyakit pes. Foto kendaraan penyuluhan kesehatan DVG kita-kira pada tahun 1925.
Juru foto: tidak diketahui.

Nama STOVIA tetap digunakan hingga tanggal 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (atau Sekolah Tinggi Kedokteran). Sempat terjadi beberapa kali lagi perubahan nama, yaitu Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) di masa pendudukan Jepang dan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan Indonesia. Sejak 2 Februari 1950, Pemerintah Republik Indonesia mengubahnya menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Jakarta yang masih tetap berlaku hingga sekarang.

 Gedung baru STOVIA, sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 1960-1980: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Pada zaman kolonial gedung itu digunakan sebagai tempat pendidikan STOVIA.
Juru foto: tidak diketahui.


Surabaya - Hindia Belanda

NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) didirikan sebagai tempat pendidikan dokter di Surabaya yang dimulai pada tahun 1913, pendidikan pertama kali dilaksanakan di Surabaya yang berlangsung di Jl. Kedungdoro 38 Surabaya. Pada tahun 1923 gedung NIAS dipindah dari Jl. Kedungdoro ke tempat berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya.

 Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) tahun 1913 di Jl. Kedungdoro 38 Surabaya

  Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) tahun 1930 di Surabaya

Sekolah Dokter kedua didirikan di Surabaya berdasarkan Keputusan Pemerintah "Besluit van de Gouverneur General van Nederlansch Indie van 8 Mei 1913 No. 4211".Beberapa peristiwa penting dalam sejarah pendidikan dokter di Surabaya adalah :
1913         Diresmikan pembukaannya pada tanggal 1 Juli 1913 dengan nama Nederlandsch Indische Artsenschool (NIAS) dengan tujuan menghasilkan dokter-dokter yang langsung dapat bekerja di kalangan masyarakat desa-desa yang dapat memberikan pertolongan praktis dengan pengetahuan cukup dan dapat dipertanggungjawabkan. Dimulainya pendidikan dokter di Surabaya diresmikan secara "low profile" tanggal 15 September 1913 di Jalan Kedungdoro No. 38 Surabaya. Ciri khas pendidikan dokter di Surabaya (NIAS) adalah kemasyarakatannya. Kurikulum NIAS disesuaikan dengan kurikulum STOVIA, dengan masa pendidikan 10 tahun, yaitu 3 tahun bagian persiapan dan 7 tahun bagian kedokteran. Siswa yang diterima adalah lulusan SD pemerintah, baik pemuda-pemuda bumiputra maupun Hindia Belanda, keturunan Cina dan Arab, pria dan wanita. Direktur pertama yang ditunjuk adalah Dr. A.E. Sitsen, seorang dokter dan tenaga pengajar yang cakap, kompeten, berdedikasi, memilih dan melengkapi korps pengajar.  

Logo NIAS
 
1923         Tanggal 2 Juli 1923, NIAS menempati gedung baru di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga saat ini. Sebagai rumah sakit pendidikan mula-mula digunakan Gevangenis Hospital Simpang (Stadverband), kemudian Central Burgelijke Zieken-Inrichting (CBZ). Tahun ini pula NIAS menghasilkan dokter pertama dengan titel Indische Art
 
1925         Kurikulum NIAS mengalami perubahan, terutama pada bagian klinik. Sejak tahun ini, siswa yang diterima hanya lulusan MULO (setingkat SMP). Pada tahun 1928, lama pendidikan NIAS diubah menjadi 8,5 tahun dengan menghapus bagian persiapan.
1927         "Geneeskundige Hoogeschool" dibuka di Jakarta. Siswa harus berasal dari HBS V dan AMS B dengan lama pendidikan 7 tahun; lulusan GHS bertitel "Arts" yang sederajat dengan lulusan dokter di Negeri Belanda. STOVIA tidak lagi menerima calon-calon baru, sedangkan siswa yang duduk di tingkat rendah diberi kesempatan pindah ke AMS atau ke NIAS Surabaya dan yang duduk di tingkat tinggi dapat menyelesaikan studi di Jakarta, disamping HGS. 

1941         Sejak NIAS berdiri sampai 1 Juli 1941 telah dihasilkan 324 Indische Artsen.

Logo NIAS selama masa pendudukan Jepang 1942 - 1945

 NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) tahun 2011, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya


 School Tot Opleiding Van Indische Tandarsten (STOVIT) 

Sejarah berdirinya STOVIT

Sebelum berdiri lembaga kedokteran gigi pada masa kolonial, di kota Surabaya telah berdiri terlebih dahulu sekolah kedokteran yang bernama Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913

 Foto dari udara kampus S.O.V.I.T dan N.I.A.S sekitar tahun 1930

Foto dari udara kampus S.O.V.I.T dan N.I.A.S (sekarang Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya) sekitar tahun 2011

Karena lembaga kedokteran gigi belum ada maka kebutuhan akan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi) didatangkan langsung dari Eropa (Belanda). Namun jumlah dokter gigi dari Eropa yang bisa dan mau bekerja di Hindia Belanda pada waktu itu amat terbatas, itupun sebagian besar hanya untuk melayani orang-orang Eropa yang tinggal di sini. Jika orang-orang pribumi menderita penyakit gigi maka sebagian besar dibawa ke dukun atau tabib dengan pengobatan tradisional, dan sebagian lagi dibiarkan untuk sembuh dengan sendirinya. Masyarakat awam menganggap bahwa sakit gigi bukanlah sakit gawat yang bisa menimbulkan kematian. Mereka juga menganggap bahwa kebersihan gigi bukanlah hal penting yang harus dilakukan sepanjang gigi masih bisa untuk mengunyah makanan dengan baik. 

Mengantisipasi hal tersebut pada bulan April 1928, Dr. Lonkhuizen, Kepala Departemen Kesehatan Masyarakat (Dienst den Volkgezonheid) pada masa itu mengusulkan kepada direktur NIAS agar mendirikan sebuah lembaga pendidikan kedokteran gigi yang bisa mendidik calon-calon dokter gigi yang berafiliasi dengan NIAS

Diharapkan lulusan dari lembaga ini bisa memenuhi kekurangan tenaga dokter gigi di Hindia Belanda. Gagasan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan kedokteran gigi akhirnya terlaksana. Pada bulan April 1928 pemerintah menunjuk Dr. Schoppe untuk mempersiapkan pendirian lembaga tersebut sekaligus sebagai direkturnya yang pertama. Lembaga pendidikan kedokteran gigi tersebut diberi nama STOVIT (School tot Opleiding van Indische Tandartsen) yang berlokasi satu kompleks dengan NIAS di Viaduct Straat No. 47 Surabaya. Pada bulan Juli 1928 sekolah dibuka dengan secara resmi menerima pendaftaran siswa. Jumlah siswa yang diterima untuk didik menjadi dokter gigi pada angkatan pertama sebanyak 21 orang. Syarat utama untuk bisa diterima di sekolah ini minimal harus lulusan dari MULO Bagian B (Pasti Alam). Bulan September 1928 proses pendidikan secara resmi dimulai. Kurikulum dirancang agar siswa dapat menyelesaikan pendidikannya selama lima tahun termasuk latihan klinik selama tiga tahun agar setelah lulus bisa langsung berprofesi sebagai dokter gigi.

Logo STOVIT
  

Setelah tiga tahun menjabat sebagai direktur dan berhasil meletakan fondasi yang kokoh bagi pendidikan kedokteran gigi di Hindia Belanda, khususnya di kota Surabaya, pada tahun 1931 Dr. Schoppe secara resmi meletakan jabatannya. Kedudukannya digantikan oleh Dr. H.J.F. Van Zaben

 Suasana STOVIT sekitar tahun 1928 - 1941

 Suasana STOVIT sekitar tahun 1928 - 1941

Tahun 1933 STOVIT berhasil meluluskan dokter gigi yang pertama. Warga Eropa yang tinggal di kota Surabaya memiliki minat yang tinggi untuk memasuki sekolah gigi, tetapi lembaga tersebut memiliki keterbatasan daya tampung yang rata-rata tiap tahun hanya 20 siswa. Karena daya tampungnya yang terbatas maka saat Jepang mengambil alih pemerintahan Hindia Belanda, STOVIT baru menghasilkan 80 dokter gigi

Proses pendidikan di STOVIT mengalami gangguan yang cukup serius dengan masuknya Bala Tentara Jepang ke Indonesia karena berdampak pada keberadaan staf pengajar yang berkebangsaan Belanda. Pengajar-pengajar berkebangsaan Belanda sebagian besar melarikan diri, sebagian lagi dimasukan ke kamp interniran. Bahasa Belanda sebagai pengantar di lembaga-lembaga pendidikan dilarang. STOVIT dibekukan lebih dari satu tahun

Pada tahun 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang membuka kembali beberapa lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Lembaga pendidikan yang dibuka antara lain Ika Daigaku (Perguruan Tinggi Kedokteran) yang merupakan gabungan dari bekas STOVIA yang berkedudukan di Batavia (Jakarta) dan NIAS yang berkedudukan di Surabaya. Ika Daigaku berkedudukan di Jakarta sedangkan cabangnya ada di Surabaya yaitu di bekas NIAS. Pada tanggal 5 Mei 1943 di Surabaya dibuka Ika Daigaku Sika Senmenbu atau Sekolah Dokter Gigi

Upacara pembukaannya dimanfaatkan oleh Pemerintah Pendudukan Jepang sebagai media untuk berpropaganda. Hatakeda yang mewakili pemerintah dengan nada mengejek Pemerintah Belanda mengemukakan bahwa Pemerintahan Belanda dahulu selalu menggembar-gemborkan  akan memperhatikan kesehatan penduduk negeri ini, tetapi nyatanya tidak ada hasilnya.   

Bahkan bangsa pribumi hanya mendapat hinaan dan gangguan kesehatan serta selalu diliputi kesengsaraan. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa saat ini Dai Nippon akan berjuang untuk memperbaiki kesalahan Pemerintah Belanda yang telah almarhum agar dapat dicapai susunan baru yang kuat dan teguh. Salah satu jalan untuk memperbaiki keadaan itu adalah dengan memperbaiki masalah “ketabiban”.  Sedangkan Itagaki, Kepala Ika Daigaku Jakarta  dalam sambutannya mengatakan bahwa pada masa Belanda memerintah kondisi kesehatan penduduk Indonesia sangat terbelakang. 

Indonesia yang berpenduduk kurang lebih lima puluh juta orang hanya memiliki kira-kira lima ratus orang dokter atau satu orang dokter untuk sepuluh ribu penduduk. Apalagi keberadaan dokter-dokter hanya ada di kota-kota besar saja. Dengan demikian maka penduduk di daerah-daerah terpencil sangat dirugikan dalam hal kesehatannya. 

Pemerintah Pendudukan Jepang berjanji bahwa Sekolah Dokter Gigi yang baru diresmikan tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan penduduk akan tenaga dokter gigi dalam waktu yang singkat tetapi juga sempurna. 

Sebagai pimpinan dari Ika Daigaku Sika Senmenbu adalah Dr. Takeda, tetapi pada bulan Nopember 1943 diganti oleh Prof. Dr. Imagawa. Beberapa staf pengajar berkebangsaan Jepang antara lain Dr. Kosi, Dr. Mural, Dr. Kondo, Dr. Takeuti, Dr. Fusise, dan Dr. Itigawa

Disamping itu juga terdapat beberapa staf pengajar dari masyarakat pribumi antara lain Prof. Dr. Sjaaf, Dr. Zainal, Dr. M. Salih, Ir. Darmawan Mangoenkoesoemo, Ir. Soemono, Dr. S. Mertodidjojo, Dr. M. Soetojo, Dr. Azil Widjojokoesoemo, Dr. R.G. Indrajana, dan Dr. R Moestopo.

Sejarah Kedokteran Gigi di Indonesia Era Kemerdekaan

Tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu yang disusul dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan proklamasi kemerdekaan maka secara politis Indonesia lepas dari kekuasaan Jepang dan secara bebas bisa mengatur dirinya sendiri. Ika Daigaku yang berkedudukan di Jakarta dan Ika Daigaku Sika Senmenbu yang berkedudukan di Surabaya kemudian dilikuidasi. 

Tindakan ini merupakan bagian dari proses Indonesianisasi yang berlangsung dalam sektor-sektor tertentu utamanya politik dan pendidikan. Sebagai ganti dari kedua lembaga pendidikan kedokteran tersebut maka pemerintah Republik Indonesia mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia yang berkedudukan di Jakarta. Sedangkan Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi yang berkedudukan di Surabaya merupakan bagian dari Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia. Sebagai pimpinan dari perguruan tinggi adalah Prof. Dr. Sjaaf.

Ketika proses pembenahan perguruan tinggi kedokteran tengaha berlangsung gelombang perang kemerdekaan muncul yang didahului dengan masuknya pasukan Sekutu ke Indonesia. Dengan dalih ingin mengamankan tawanan Jepang,  pada bulan September sampai Oktober 1945 pasukan Sekutu memasuki kota-kota besar di Indonesia. 

Di Jakarta pendaratan pasukan Sekutu disambut dengan kontak senjata oleh rakyat. Di mana-mana pasukan Sekutu menciptakan kegaduhan. Rakyat Indonesia yang mencurigai adanya maksud tersembunyi dari pasukan Sekutu dengan menyelundupkan tentara Belanda menjadi marah. Akibatnya kota Jakarta menjadi tidak aman. 

Pada bulan Januari 1946 Ibukota Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Bersamaan dengan itu dipindahkan pula Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia ke beberapa kota yaitu ke Yogyakarta, Solo, dan Klaten. 

Di kota Surabaya keberadaan pasukan Sekutu (Inggris) memancing perang besar dengan rakyat kota ini. Akibatnya kondisi kota menjadi kacau balau yang menyebabkan situasi perkuliahan di Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi Surabaya menjadi terganggu. 

Agar proses perkuliahan tetap berjalan maka seiring dengan pindahnya pemerintahan propinsi Jawa Timur ke kota Malang, Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi juga dipindahkan ke kota Malang dengan status sebagai perguruan tinggi di pengungsian

Tahun 1947 terjadi Agresi Militer Pertama yang disusul dengan Agresi Militer Kedua pada tahun 1948. Pada Agresi Militer yang kedua, kota Malang digempur habis oleh pasukan tentara Belanda. Warga kota Malang terpaksa harus mengungsi keluar kota. Sebelum kota Malang ditinggalkan, sebagian besar bangunan penting di kota ini dibumihanguskan agar tidak digunakan oleh pasukan Belanda yang baru datang di kota ini.

Bersamaan dengan didudukinya kota Malang oleh pasukan tentara Belanda maka Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi juga harus dipindah lagi ke kota Klaten dan Yogyakarta

Pada tahun 1946 di Yogyakarta didirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1949 secara resmi Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada berubah menjadi Universitas Gadjah Mada yang menghimpun fakultas-fakultas yang tersebar di berbagai kota Republik, antara lain Yogyakarta, Solo, dan Klaten. Dengan demikian maka sejak saat itu Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi berubah statusnya menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.

Sejak Agresi Militer Pertama pada tanggal 20 Juli 1947 kota Surabaya diduduki oleh Pasukan Tentara Belanda. Mereka kemudian mendirikan pemerintahan Jawa Timur yang disebut RECOMBA yang berkedudukan di Surabaya. Pada tanggal 27 Agustus 1947 Pemerintah Pendudukan Belanda di Jakarta mengumumkan kepada masyarakat bahwa mereka akan membuka kembali Institut Kedokteran Gigi di Surabaya yang bertempat di gedung NIAS

Karena tempat yang terbatas sekolah ini belum akan menerima murid baru tetapi hanya akan menerima bekas siswa STOVIT terutama yang sebelum Jaman Jepang minimal sudah duduk di kelas dua. Sedangkan siswa STOVIT yang dulu baru kelas satu hanya diperkenankan masuk apabila memiliki ijazah HBS B atau AMS B. 

Pada tanggal 15 Januari 1948 secara resmi dibuka kembali Institut Kedokteran Gigi atau Tandheelkundige-Instituut yang menempati bekas gedung NIAS di Karangmenjangan yang pada jaman kolonial bernama Viaduct Straat No. 47.  

Peresmian pembukaan sekolah tersebut mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah pendudukan Belanda. Hadir dalam kesempatan itu diantaranya dari RECOMBA Jawa Timur. Sebagai direktur dari sekolah ini adalah Dr. J.M. Klinkhamer Sr

Pada saat sekolah ini dibuka tidak ada satupun masyarakat pribumi yang mau menjadi siswa. Rasa nasionalisme yang amat tinggi dari masyarakat kota Surabaya menyebabkan mereka lebih baik menyingkir keluar kota atau menjadi pejuang dari pada menjadi siswa sekolah yang dikelola oleh pemerintah pendudukan Belanda. Maka pada periode ini Tandheelkundige-Instituut lebih pantas disebut sebagai lembaga pendidikan milik Belanda yang akan menjajah 
kembali Indonesia. 
 
Pada tanggal 1 Agustus 1948 Pemerintah Pendudukan Belanda membuka Faculteit der Geneeskunde (Fakultas Kedokteran) di Surabaya yang merupakan cabang dari Faculteit der Geneeskunde

Universiteit van Indonesia telah berdiri secara utuh sejak Maret 1947 di Jakarta. Sejak saat itu di kota Surabaya terdapat dua lembaga pendidikan kedokteran yaitu Faculteit der Geneeskunde dan Tandheelkundige-Instituut yang merupakan cabang fakultas yang sama dari Universiteit van Indonesia Jakarta.

Sejarah perguruan-perguruan tinggi di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan dengan berakhirnya pendudukan Belanda di Indonesia dengan disepakatinya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Nopember 1949

Tanggal 19 Desember 1949 Universitas Gadjah Mada lahir. Pada tanggal 27 Desember 1949 negeri Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan atas Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). Dengan penyerahan kedaulatan itu maka Universiteit van Indonesia yang semula dibawah penguasaan pemerintah pendudukan Belanda kemudian menjadi universitas milik Pemerintah Republik Indonesia Serikat dengan fakultas-fakultasnya yang tersebar di negara-negara federal, antara lain di ibukota RIS Jakarta, di Negara Indonesia Timur/Makassar (Fakultas Ekonomi), dan di Negara Jawa Timur/Surabaya (Fakultas Kedokteran dan Institut Kedokteran Gigi). 

Penyerahan kedaulatan dan terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia telah mendorong terjadinya perubahan formasi dan konstelasi perguruan tinggi di Indonesia. Universitas Gadjah Mada yang merupakan universitas pertama milik Pemerintah Republik Indonesia semakin memantapkan posisinya menjadi universitas nasional. 

Sementara itu Universiteit van Indonesia yang dilahirkan dan dikelola oleh Belanda berubah nama menjadi Universitet Indonesia. Perubahan nama itu merupakan bagian dari proses Indonesianisasi pendidikan tinggi di Indonesia. 

Periode awal kemerdekaan ditandai dengan bangkitnya rasa nasionalisme yang sangat tinggi yang diikuti dengan sentiman anti Belanda yang kuat. Timbulnya perasaan semacam itu diikuti dengan penjungkirbalikan simbol-simbol kolonialisme yang bisa membangkitkan romantisme masa kolonial yang menyengsarakan. 

Akibatnya simbol-simbol yang berbau kolonial dihancurkan dan diganti dengan simbol-simbol ke-Indonesiaan. Istilah-istilah Belanda diganti dengan istilah-istilah Indonesia, maka wajar jika nama Universiteit van Indonesia diganti menjadi Universitet Indonesia. Pengelolaan universitas tersebut juga berpindah tangan ke Pemerintah Republik Indonesia. 

Dengan perubahan nama tersebut Faculteit der Geneeskunde dan Tandheelkundige-Instituut juga berubah menjadi Fakultas Kedokteran dan Institut Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia Cabang Surabaya. Pimpinan Institut Kedokteran Gigi masih dipegang orang Belanda yaitu Prof. M. Knaap. Ia menjabat sampai tahun 1953 dan digantikan oleh Prof. M. Soetojo. Istilah Institut Kedokteran Gigi sering disebut juga dengan istilah Lembaga Kedokteran Gigi

Karena terbatasnya sarana dan prasarana maka sampai tahun 1951 jumlah mahasiswa yang diterima di Institut Kedokteran Gigi Surabaya masih sangat terbatas, yaitu berkisar 20 orang. Seiring dengan berbagai pembenahan dan penambahan alat maka sejak tahun 1952 jumlah mahasiswa yang diterima berkisar antara tujuh puluh sampai seratus orang.

Sampai tahun 1950 Indonesia baru memiliki dua universitas negeri, yaitu Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Indonesia di Jakarta. Jumlah itu tentunya tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah amat banyak. Oleh karena itu pemerintah berinisiatif untuk mendirikan perguruan tinggi lagi terutama di Indonesia bagian timur. 

Akhirnya pemerintah memutuskan untuk mendirikan sebuah universitas baru yang diberi nama Universitas Airlangga yang berkedudukan di kota Surabaya. Pada tanggal 10 Nopember 1954 secara resmi Universitas Airlangga berdiri

Dengan berdirinya Universitas Airlangga maka Fakultas Kedokteran dan Institut atau Lembaga Kedokteran Gigi yang semula merupakan cabang dari Universitas Indonesia kemudian dipisahkan dari induknya dan digabung ke Universitas Airlangga. 

Sejak digabung dengan Universitas Airlangga nama Lembaga Kedokteran Gigi berubah status menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga dengan lama belajar lima tahun

Namun bagi mahasiswa lama yang masuk sebelum tahun 1954 (sebelum bergabung dengan Universitas Airlangga) statusnya masih sebagai mahasiswa Lembaga Kedokteran Gigi dengan lama belajar empat tahun. 

Pada tahun Pelajaran 1956/1957 masih terdapat tiga tingkat mahasiswa yang belajar di Lembaga Kedokteran Gigi, yaitu tingkat II, III, dan IV. Mereka adalah para mahasiswa lama yang tidak lulus-lulus, atau istilah pada saat itu adalah recidivist, dikarenakan berbagai hal. Tetapi pada saat yang bersamaan pada tahun pelajaran itu juga sudah terdapat mahasiswa tingkat I, II, dan III dengan status sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga.   
Syarat-syarat untuk dapat diterima menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi adalah Berijazah SMA bagian B (Pasti-Alam). Baru pada tahun 1963 status Lembaga Kedokteran Gigi menghabiskan mahasiswanya, dan dengan demikian maka secara resmi sejak tanggal 5 Desember 1963 lembaga tersebut ditutup. 

Dengan ditutupnya Lembaga Kedokteran Gigi maka berdiri secara penuh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga sejak tanggal 5 Desember 1963 dengan lama pendidikan lima tahun. Lulusan terakhir dari Lembaga Kedokteran Gigi adalah Rifat Simatupang, The Siong Hoon, Djoko Soedibyo, Tan Khe Hoen, dan Lee Fong Lien. Adapun Dekan Fakultas Kedokteran Gigi pada periode ini adalah Letkol. Soenario

Sejak berstatus menjadi fakultas upaya untuk memajukan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga terus dilakukan. Upaya tersebut antara lain menjalin kerjasama dengan berbagai universitas di luar negeri, pembenahan kurikulum, serta penambahan sarana dan prasarana. 

Pada tahun 1957 salah seorang staf pengajar yaitu Ratiza Zainal dikirim ke Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuan tentang teknik pengobatan dan perawatan gigi. Ia dikirim bersama dengan empat dokter gigi lain dari berbagai kota di Indonesia untuk belajar di berbagai sekolah kedokteran gigi di Amerika serikat atas kerjasama antara kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP dan K) dengan Administrasi Kerjasama Internasional Amerika Serikat di Indonesia (ICA). 

Bagian Gallery STOVIT Tahun 2011 di Surabaya
                  
Pada tahun 1959 ketika Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerjasama dengan University of California, Fakultas Kedokteran Gigi juga diberi kesempatan untuk ikut memanfaatkan kerjasama tersebut dengan mengirim duabelas staf pengajarnya untuk memperoleh pendidikan tambahan dan pendidikan bergelar dengan beasiswa dari USAID.

9 komentar:

  1. Sangat berguna sekali ,tugas Akhir saya di jurusan Arsitektur adalah merancang Rumah sakit Gigi dan Mulut ,sangat terbantu dengan adanya sejarah mula kedokteran gigi di Indonesia ...
    Terima Kasih ...

    BalasHapus
  2. Terima kasih Puja, sekarang jumlah pendidikan Kedokteran Gigi di Indonesia semakin banyak dan membutuhkan desain RSGMP yang sesuai standar Institusi Pendidikan Kedokteran Gigi.
    -drg. Bimo Rintoko., Sp.Pros.-

    BalasHapus
  3. Wah, terima kasih atas infonya Pak. Sangat mencerahkan.

    Salam kenal,
    Gommu.

    BalasHapus
  4. Terimakasih Dokter Bimo penjelasannya, sangat berguna
    Sayangnya penjelasan tersebut tidak disertakan literatur penunjangnya, apabila disertakan saya akan sangat berterima kasih karena saya ada tugas mengenai sejarah bangunan pendidikan dan kebetulan pendidikan kedoteran yang bertempat di gedung eks-STOVIA juga termasuk di dalamnya

    Apabila berkenan mohon bantuannya untuk memberitahu saya nama-nama literatur yang dapat saya gunakan untuk menyelesaikan tugas tersebut lewat email.
    Sebelumnya terimakasih banyak

    BalasHapus
  5. Terima Kasih atas atensinya saudara verborheden.
    Saya menyusun postingan di atas dari berbagai sumber, maaf saya tidak menyimpan suber2nya karena saya menyusun dari berbagai artikel di Internet. Ke depannya nanti di postingan saya akan saya lengkapi dengan sumber-sumbernya. Nanti akan saya cari lagi sumber-sumber tulisan saya. Tks

    - Best Regard -

    BalasHapus
  6. thanks for sharing, pak :D

    kami kebetulan nemu blog ini sewaktu googling gambar2 bangunan jaman belanda

    BalasHapus
  7. maturnuwun infonya, mohon ijin copas

    BalasHapus
  8. postingan ini sangat membantu sekali. izin copas ya Pak, tetap akan saya sertakan sumbernya kok. :)

    BalasHapus